Jumat, 28 April 2017

Leadership Jorney

      Perjalanan kehidupan yang selalu saya syukuri dengan penuh keikhlasan, yang menjadikan berbagai cobaan sebagai rintangan yang tak seberapa, serta yang menjadikan nikmat-NYA sebagai suatu nilai plus untuk apa yang sudah saya lakukan selama ini di dunia. Mungkin tak seberapa berat cobaan saya dibanding dengan orang-orang yang di sana, orang-orang yang tak punya tempat tinggal, orang-orang yang tak punya orangtua dan orang-orang yang serba kekurangan. Walaupun hidup saya serba pas-pasan. Tapi inilah hidup yang harus selalu saya syukuri, Alhamdulillah :')
          Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, jauh dari saudara, jauh dari kakek dan nenek, serta jauh dari kampung tempat saya terlahir, yaitu Nganjuk (salah satu kota di Jawa Timur). Saya anak pertama dari 3 bersaudara, yang mempunyai visi dan misi yang cukup sederhana, yaitu khairunnas anfa’ahum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain).
          Walaupun saya jauh dari saudara-saudara, tetapi saya masih mempunyai keluarga inti, sahabat, guru, kaka kelas, murrobiah, dll yang selalu memberikan suport di kala saya sedang tak semangat. Mengingatkan saya di kala iman saya sedang futur. Memberikan banyak pelajaran dan hikmah yang membuat saya berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya sangat bersyukur berada diantara mereka, berada di lingkungan yang baik yang penuh dengan ukhuwah islami. Tak ada kesulitan untuk menuju jalan yang di ridhoi-NYA.
          Setelah Saya di terima di sebuah SMA Negeri, tepatnya di SMAN 4 DEPOK yang berada di perum. Sukatani Permai. Saya memulai sebuah target yang berbeda dari SMP, yaitu saya ingin aktif di ekskul dan mengikuti organisasi, serta bisa mencapai prestasi akademik serta non akademik. untuk mencapai sebuah target itu, saya mulai aktif di berbagai organisasi dan ekskul di SMA. Yang paling berkesan ketika saya diamanahkan menjadi Ketua Keputrian di ROHIS SMAN 4 Depok. Padahal saat itu saya benar-benar baru mengenal yang namanya organisasi dan untuk memimpin diri sendiri saja masih belum bisa, bagaimana memimpin orang lain dan dapat memberikan teladan untuk orang banyak. bahkan untuk berbicara di depan kelas saja saat itu saya masih suka demam panggung, apalagi berbicara di depan forum akhwat yang lumayan banyak anggotanya kala itu. Tapi bismillah, tidak ada yang tidak mungkin. Dengan azam yang kuat. Akhirnya saya pun berusaha melatih diri saya untuk berubah dan berlatih terus-menerus untuk berbicara di depan umum. Sampai suatu ketika saya diamanahkan untuk memberikan sambutan mewakili SMA saya di depan sekolah-sekolah lain, saat jaulah (kunjungan) ke sekolah lain.
Seiring berjalannya waktu, ternyata ROHIS banyak membawa perubahan pada diri saya pribadi. di sinilah perubahan-perubahan yang baik terjadi di diri saya. Mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman ber-organisasi, serta dilatih menjadi seorang pemimpin yang amanah dan teladan. Terutama membawa saya lebih mengenal Allah dan Rasulnya J hidup saya seperti banyak warna dan selalu bersemangat.
Tetapi kehidupan pun mulai berubah. Banyak rintangan dan nikmat ujian yang Allah berikan. Hal ini terjadi ketika Ayah saya diberikan ujian sakit yang lumayan serius dan membutuhkan banyak biaya. Padahal saat itu sumber pendapatan keluarga yaitu dari ayah saja. Tetapi, ayah saya yang bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan Indonesia, harus mengalami PHK secara sepihak, karena ayah saya harus full istirahat. Disinilah kondisi keluarga saya mulai berubah, terutama pada ekonomi keluarga yang semakin menurun. Pada saat itu, saya sempat mengalami down yang lumayan parah. Karena pada kondisi itu, selain ekonomi keluarga yang semakin memburuk, juga saya mengalami kebingungan terhadap masa depan saya.
Walaupun saya dalam keadaan down, tetapi saya selalu yakin dan percaya, bahwa Allah memberikan ujian kepada kita sesuai dengan kemampuan kita dan pasti ada rencana Allah yang terbaik untuk kita. Mungkin yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Allah lebih tau dari pada kita sendiri. Saat itu, saya berusaha merenungi di dalam alam bawah sadar saya semua hal yang positif.
Ada ibrah di setiap ujian dan rintangan. justru disaat ujian itu datang, disitulah saya merasakan ukhuwah indahnya saling menguatkan dengan keluarga inti saya. Ibu saya lebih terbuka dan sering mengajak saya untuk berdikusi, saya juga bisa lebih dekat dengan adik-adik saya. Saat itu saya baru sadar, seharusnya perkembangan adik-adik saya harus saya perhatikan dan ini menjadi kewajiban saya sebagai anak pertama.
Selain itu, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga saya. Bagaimana kondisi ini tidak boleh lagi terjadi kepada keluarga saya. Ketika itu yang saya fikirkan bukan mencari pekerjaan tetapi bagaimana saya harus membuka lapangan pekerjaan. Ya! saya harus menjadi seorang pengusaha! Walapun saya sempat ragu, karena saya pernah mengalami trauma yang dahsyat terhadap dunia usaha. Bangkrut dan ditipu oleh orang lain pernah saya alami, sehingga ketika terjun lagi ke dunia usaha, saya harus menguatkan tekad saya terlebih dahulu.
Akhirnya ketika saya magang di suatu perusahaan terkenal di Mega Kuningan Jakarta, saya bertemu dengan Ust. Valentino Dinsi yang pada saat itu membumingkan bukunya yang berjudul “SATU PENGUSAHA SATU KELUARGA” Masyaa Allah! Ini buku yang saya butuhkan saat itu. Setelah saya membaca buku tersebut dan saya juga sempat sharing dengan beliau. Akhirnya saya menemukan titik dimana Allah sedang mengarahkan HambaNya ke Jalan yang TERBAIK menurutNya.
Setelah itu, saya pun diskusi dengan Orangtua saya. Sempat tidak di izinkan untuk menjadi seorang pengusaha, karena menurut beliau dunia usaha itu keras butuh mental yang kuat dll..  memang di keluarga saya belum ada yang menjadi seorang pengusaha. Dan mungkin inilah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi pelopor pengusaha di keluarga saya khususnya.
Dengan kekuatan tekad saya, akhirnya saya terus melangkah action, dan ingin membuktikan kepada keluarga saya, bahwa I CAN DO IT!
          Akhirnya saya memutuskan untuk  mencari ilmu bisnis yang sesungguhnya sebelum benar-benar terjun ke dunia bisnis. Ya, saya harus mencari tempat kuliah bisnis kalau bisa mendapatkan beasiswa dan berbasis syariah.
          Keinginan saya ini pun menjadi hujatan banyak orang. Ada yang bilang “orang ayahnya lagi sakit bukan kerja aja malah sok-sokan kuliah, duit dari mana.. dan bla bla bla” wah banyak deh perkataan-perkataan orang disana tentang saya. Tetapi Saya pun tidak terlalu memikirkan mereka, saya terus melangkah dan bersyukur karena dari hujatan itu tandanya banyak yang peduli dengan saya dan saya semakin bersemangat dengan hal itu.
          Ada seorang penguat di balik orang yang tegar dan kuat. Ya.. keluarga sayalah yang menguatkan saya untuk berkuliah. Entah uang dari mana. ketika mempunyai azzam untuk menuntut ilmu, Insyaa Allah, Allah akan mempermudahnya. Allah kan Maha Kaya, kita hanya perlu berikhtiar dan berdoa.

Dreams, Pray And Action!

Salam Inspiratif,
@rinanisaa